friends,
tahun baru, harusnya ditandai dengan semangat baru. karena itu, gw memutuskan untuk hiatus sementara di blog ini.
gw ini membuka jurnal baru, menuliskan di lembar-lembaran kosong. *halah.
well eniwei, intinya, gw masih posting. tapi blog gw pindah, ke rumah baru.
templatenya lebih bagus, dan nyaman. juga tidak berat untuk di buka. sudah ada shoutbox dan comment-nya juga barang kali mau kopi darat. *halah.
wel eniwei, main-main kesana juga. ya. blog ini masih tetap ada kok. nggak akan gw hapus.
have a nice life everybody. over and out
Danevil
This is the story of my life. Its sad, its pathethic, its crazy, its silly, its stupid, its fun, and its me!! Its all about me!
Thursday, January 19, 2006
Wednesday, January 18, 2006
Sunday, January 15, 2006
Screwed
I screwed up a lot. Gw memang sering banget “bermain-main” dengan kesulitan. But in the end gw selalu lolos dengan manis, tepat di detik-detik terakhir. Gw memang sering beruntung.
Tapi, karena udah terlalu menaruh kepercayaan pada what so called keberuntungan itu, gw kena batunya. This time, I’ve gone to far. Kali ini imbas yang gw dapat berlipat ganda, datang bertubi-tubi.
Gw tahu, semua ini salah gw sendiri. Jadi, gw terima dengan pasrah. Gw tahu, ini akibat sifat buruk gw yang selalu menyepelekan segala sesuatu, dan mengandalkan luck tadi.
It’s oke, I learn my lessons. Gw terima setiap konsekuensi dari perbuatan yang gw lakukan. But that’s not the important thing. Yang terpenting, gw akan berubah. Gw akan lebih disiplin dan lebih keras lagi.
Tapi, karena udah terlalu menaruh kepercayaan pada what so called keberuntungan itu, gw kena batunya. This time, I’ve gone to far. Kali ini imbas yang gw dapat berlipat ganda, datang bertubi-tubi.
Gw tahu, semua ini salah gw sendiri. Jadi, gw terima dengan pasrah. Gw tahu, ini akibat sifat buruk gw yang selalu menyepelekan segala sesuatu, dan mengandalkan luck tadi.
It’s oke, I learn my lessons. Gw terima setiap konsekuensi dari perbuatan yang gw lakukan. But that’s not the important thing. Yang terpenting, gw akan berubah. Gw akan lebih disiplin dan lebih keras lagi.
Friday, January 13, 2006
Tic Toc Tic Toc Tic Toc
18.33 WIB
Arrgh,kenapa jam berdetik begitu lama. My heart is jumping. My mind is wondering. And i can think of is “when are you coming?”
Katanya berangkat jam enam, nyampe setengah sembilan. Masih waitable-lah *halah. Ternyata molor setengah delapan, jadi datang jam setengah sebelas. Oh girl, u make me crazy.
Ngetik naskah, udah. Blogwalking, sampe bosen. Makan, udah. Shit, what else should i do?
19.40 WIB
Bagus-bagus. Hal terakhir yang least i expected datang. HUJAN!!! Gede banget lagiii!!!! demit!
Buset. Temen gw yang makan di sebrang jalan (cuma selemparan kancut) aja, balik dengan baju basah.
Padahal kan gw mesti nganter dia pulang?
Kok bisa-bisanya hujan di saat-saat kritis ini? Aahrghh, gw bisa gila. Please....please... cepatlah reda!!!!
21.37 WIB
Haha. Imajinasi gw mulai nakal. Ngebayangin pertemuan sarat chemistry antara Matthew (Josh Hartnett) dan Lisa (Diane Kruger) -love of his life-nya- di film Wicker Park. Bedanya, kalau keduanya bertemu di airport-- gw di, ehm, Gambir--.=D
Dipandu dengan Scientist-nya Coldplay, kedua mata mereka bertatapan. Sorot mata penuh kerinduan, yang sudah mengungkap semua. Sorot mata dan ekspresi itu sudah menunjukkan betapa merindu keduanya, setelah berpisah sekian lama. Keduanya pun berpelukan, just like that.
“Come up to meet ya, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you, tell you I need ya
And tell you I set you apart
Tell me your secrets, and nurse me your questions
Oh lets go back to the start”
21.45
Ok-ok, thats enough. Lets get goin and look how things turn out. Here i comes. wish me luck.
Thursday, January 12, 2006
Balada si Pemalas
Pemalas. Thats my middle name. Gw lebih memilih menamatkan Devil May Cry di kamar, daripada ngebantu bokap ngebenerin pipa kamar mandi yang bocor.
Gw lebih memilih nongkrong bareng temen daripada kudu ngeganti kampas rem mobil yang menipis. Komik Monster Parasit rasanya lebih asyik ditamatkan dari pada ngelihat papa mengutak-atik kompor yang nggak mau nyala.
Dan, akibat dari kemalasan itu baru terasa sekarang. Tepatnya setelah gw kos, dan harus melakukan segala sesuatunya sendiri.
Gw baru menyadari, setiap barang yang kita punya memiliki siklus hidup. Setelah penggunaan dalam waktu tertentu, pada akhirnya akan rusak. Dan, kalau setiap barang rusak diganti dengan baru, tentunya bakal bangkrut.
Karena itu, there is a word-so-called : “memperbaiki”, atau “mengakali”. Paling tidak kedua kata itu bisa menambah siklus hidup barang tadi lebih panjang. Berapa biaya kalo tiap listrik putus kita selalu manggil tukang listrik? Betapa malunya ketika kompor gak nyala ternyata ”cuma” karena selang gas yang kurang terpasang sempurna.
Sangat sepele sebenarnya. Tapi hal yang paling sepele itu justru paling terasa. Karena bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Ambil contoh, euh, well, uhm, oke-oke. Mungkin sejauh ini gw belum pernah benar-benar memperbaiki atau mengakali sesuatu yang rusak.
Well, mungkin, gw kasih contoh lain yang meski nggak relevan, tapi punya esensi sama. Menanak nasi.
Damn. Dari brojol, sampai segede bagong, gw nggak tahu--atau nggak mau—cara menanak nasi itu gimana. Padahal sebenarnya sangatlah gampang. Beras di cuci 3 kali, masukin rice cooker, tambah air setinggi 1 ruas kelingking. Tunggu ½ jam.
Taddaa...nasi yang hangat plus nikmat siap disantap. Tinggal goreng kornet atau sarden sebagai pelengkap. Apapun lauknya, nasi yang panas sudah menjadi penambah nafsu makan sendiri.
Bayangkan, berapa penghematan yang bisa gw lakukan. Apalagi di Jakarta, dimana satu porsi makan plus minum minimal merogoh kocek tujuh ribu rupiah. Itupun, rasanya sangat buruk. Bah!
Asal tahu saja, makanan di Jakarta sucks! I mean, really-really sucks! Apalagi buat lidah orang Surabaya/Jawa yang menyukai rasa manis. Sangat tersiksa. Kalau mau yang agak enakan, siapkan saja kocek 10-15 ribu. Puah. Is not worthed every peny!
Dari bisa menanak nasi, gw mulai belajar sesuatu lain yang super simple. Misalnya, berapa lama nasi bisa bertahan? apa saja bumbu membuat nasi goreng? Ternyata cuma butuh kecambah, bawang merah-putih, kecap, kacang panjang, garam, dan daging untuk membuat oseng-oseng yang sedap.
Itu baru soal memasak. Soal rumah, atau mesin lain lagi. Ini gw amati langsung waktu gw ke rumah baru kakak gw di Kepala Molek, Kelapa Gading. Ceritanya, setelah menikah dan hamil, mertua membelikan rumah baru. Haha, sebenarnya ini mirip-mirip cerita Aris lah.
Dan, tentu saja, disitulah kemampuan kita sebagai seorang pria dipertanyakan. Hiks. Dan ternyata, sejauh ini kakak ipar gw itu menjalaninya dengan oke. Misalnya, dia tahu berapa banyak semen dan pasir yang dibutuhkan untuk membuat kubah di hal belakang. Dia dengan cekatan menyuruh tukang melakukan ini-itu, menyabut bahan-bahan yang sangat asing di telinga gw.
Melihat itu, gw seakan dihadapkan pada pertanyaan besar, HOW ABOUT ME??!! I know, target gw menikah masih lama. Masih sekitar 3-4 tahun lagi. But, time goes fast. Kalau gw nggak belajar dari sekarang, dijamin gw akan membuat malu calon mertua nanti.
Well, gw jadi teringat kata-kata nyokap ke gw, “wah, mama bener-bener beruntung punya papamu, semuanya jadi lebih mudah,”. Waktu kecil, gw selalu mengidentikkan bokap adalah McGyver, coz he merely can fix anything!
Dari menginstal sendiri pompa air panas, menyemen halaman, memasak tuna, sukiyaki dan shabu-shabu yang super lezat, hingga membuatkanku handmade sirkuit Tamiya! Damn, benar-benar suami idaman. Dan punya ayah super cekatan (super dad *halah) itu nggak gw manfaatkan sebagai seorang anak.
So, sejak seminggu ini, gw mulai berusaha mendisiplinkan diri sendiri. Dari hal-hal yang paling sederhana saja, seperti membersihkan tempat tidur setelah bangun, merapikan tumpukan DVD, gelas, asbak. Melap motor, hingga membuat sarapan sendiri. Mungkin gw nggak bisa, dan gak mungkin menyamai bokap gw, but setidaknya gw berusaha untuk menjadi manusia mandiri. For my prospective spouse's goodness. Haha.
Tuesday, January 10, 2006
i've been Macified!
wops, wallpaper miyabinya belum dihapus. =P
akhirnya, gw resmi switching to Mac, dan menjual toshiba usang gw yang sudah banyak trouble-nya (layar retak, speaker pecah, kibor ngadat).
Kali pertama menggunakan OS Tiger memang agak sedikit susah. butuh penyesuaian, terutama gw, yang seumur hidup menggunakan windows.
yang paling terasa perbedaannya adalah fitur windows explorer di Windows dan finder di Mac. finder tak ada fitur thumbnail, sehingga untuk mengarrange file word, gambar, mp3, dan video sedikit sulit.
tapi, dengan sedikit penyesuaian, gw sangat puas dengan ibook 12" ini. dipersenjatai dengan prosesor 1.33 ghz, hardisk 80 gig (cukup menyimpan ratusan bokep), serta DVD combo, kekuatannya terasa banget. bandel abis.
dan yang pasti, kalibrasi warnanya jelas nyaman di mata. love my ibook. kuberi nama dia, Macky. awas, jangan salah ngucapinnya lho! =P
A Journey to Makassar
jalanan pantai penuh sponsor
mejeng di losari
Gw baru aja dari Makassar. Diundang TPI untuk ngeliput audisi KDI 3. Ha-ha, gw tau emang gak keren. Tapi berhubung ini tugas, jadi harus diemban sepenuh jiwa raga *halah.
Enihoo. Perjalanan ke Makassar menggunakan Lion Air dengan pesawat Being 737-400 yang berbodi cukup besar. Gw kebagian duduk di seat no 12, which is dekat pintu darurat.
Enak, karena ruang untuk kaki terasa lebih spacey. Jadi kaki bisa di selonjorkan. Dan, perjalanan selama 2 jam itu pun tak terasa karena gw tidur dengan nyenyaknya (ditemani sederet playlist Snow Patrol di iPod).
Sekilas, bandar udara Hassanudin seperti Juanda. Cuma ukurannya lebih kecil. Gw berangkat 3 orang, Pak Agus dari koran Pedoman Rakyat, dan Vini dari TPI.
Sampai di Makassar, Vini mengajak makan di KFC bandara. Well, sebenarnya gw sedikit kecewa. I was hoping kita bakal menjajal makanan khas Makassar seperti sop Konro, Coto Makassar, atau sate kuda. Tapi, karena waktu mepet lantaran kita harus segera ke TKP, jadi cukup dimaklumi.
Kesan pertama melihat Makassar, hmm, nggak jauh beda dengan Surabaya. Secara letaknya di pantai, kota ini cukup panas (tapi tetap nggak sepanas Surabaya tentunya).
Yang cukup mengganggu adalah jalanan dari bandara menuju kota yang tidak terawat (baca : bergeronjal dan berlubang). Apalagi jarak tempuhnya lumayan jauh, sekitar 1 jam.
Kota Makassar sendiri lumayan besar. Cuma, banyak sekali bangunan-bangunan yang tidak terawat dan terlihat kumuh. Ohya, seperti Surabaya, disini masih ada becak. Tapi dengan bentuk yang lebih ramping. Rasanya cukup 2 orang berbadan gemuk tidak akan muat.
Ada beberapa koran yang mendominasi disini. Yang pertama adalah Fajar (Jawa Pos Grup). Menurut beberapa rekan, oplah Fajar sudah diatas 60 ribu eksemplar, tersebar di seluruh daerah Sulawesi.
Yang kedua adalah Tribune Timur (Kompas Grup), disusul dengan Pedoman Rakyat, yang berpusat di Makassar. Anehnya, disini juga ada Jawa Pos. Memang, meski masih satu grup, tapi desain dan lay out Fajar lumayan beda dibandingkan JP.
Ajang audisi KDI dilangsungkan di mall GTC, di daerah Tanjung. Cukup unik, karena letaknya di samping laut, dan berdekatan dengan Pantai Losari yang terkenal itu.
Sayangnya, mall itu sangat sepi, karena letaknya yang cukup jauh. Apalagi hampir tidak ada transportasi untuk menuju kesana (katanya sih ada sejenis angkot, tapi kemarin gw nggak melihat satupun)
Well i’ll skip with the KDI-part ok, coz is boring like hell. Eniwei, untuk membunuh waktu (kebetulan break Magrib), gw memutuskan jalan-jalan di penjual DVD. Liat-liat, eh nemu Old Boy, film yang gw cari2. Film Korea besutan Chan-Wook Park ini nyaris membawa pulang Palme D’or di Cannes. Punya cerita absurd dan twist yang gila-gilaan.
Cuma gw cukup kaget ketika si penjual menyebut angka 10 ribu. Haha, maklum, gw terbiasa memborong DVD di Glodok yang tiap film dijual “cuma” seharga 4-5 ribu.
Yang unik lagi, ketika adzan Magrib, kamar mandi di Mall penuh. Pengunjung berbondong-bondong berwudhu dan sholat di Mushola yang disediakan. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di Surabaya atau Jakarta.
Oh ya, orang Makassar lebuh suka menggunakan bahasa Indonesia yang baku, daripada bahasa khas Makassar. Jadi cukup memudahkan komunikasi.
Logat yang digunakan pun mirip dengan logat Surabaya, kasar! Namun, seorang ibu salah seorang peserta KDI berkata ke gw, “maklum ya mas, logat kami memang kasar, tapi sebenarnya orang sini baik-baik kok!”. Hmm...
Liputan audisi cukup menyita waktu. Baru kelar sekitar 22.30 wita. Padahal sebenarnya gw masih pengin menghabiskan waktu di Pantai Losari, mencoba Pisang Ngepe (bener gak ya tulisannya?), atau club hopping disana.
Ah, well. Setelah audisi kelar, Vini langsung membawa kita ke Hotel Royal Comfort, setelah sebelumnya dijamu makan malam ragam seafood oleh pemilik mall.
Besoknya, sempat mampir dulu ke toko oleh-oleh. Membeli peci, buat bokap, dan kacang disko, cemilan khas Makassar. Sayangnya, gelang akar bahar yang gw cari ternyata tidak ada. Kata seorang penjual, akar bahar sekarang sudah dilarang karena dilindungi. Cuma beberapa toko emas saja yang diperbolehkan menjualnya. Itupun sudah di tanami emas, dan dijual dengan harga selangit. Oh well. Jadi inti dari tulisan ini adalah : perjalanan ke Makassar yang membosankan. *sigh.
Dodol conversation :
gw : oi oi, wawancara bentar dong!
Peserta KDI : oh iya mas.
gw : ok, namanya sapa?
Peserta KDI : nama saya Djaenuddin mas.
gw : ok. eh, gue panggil sapa nih, Djae atau Udin?
Peserta KDI : oh, panggil saja DJAY mas!
gw :........
Wednesday, January 04, 2006
in need of love
"There is only one happiness in life: to love and be loved." - George Sand
CV pacaran gw sebenernya nggak terlalu bagus. 23 tahun gw idup di dunia, cuma 4-5 kali menjalin cinta dengan wanita. Bahkan, yang bisa dihitung serius cuma dua. Sisanya numpang lewat. Sempat juga beberapa kali “terlibat emosi” dengan beberapa cewek. Tapi nggak sampai ke tahap komitmen. Pure lust, no love. Hihihi.
Lucu juga sebenernya. Dari dua yang serius itu, gw sebagai cowok justru jadi pihak yang paling menderita. Yang pertama, diselingkuhi. Yang kedua, beda agama. Sekarang, dua-duanya sudah sama-sama punya cowok. Dan, sudah serius banget sama cowok2 mereka. But hey, don’t get me wrong. I’m happy for them.
Nyari cewek itu, seratus kali lebih susah dari milih kos-kosan. Jauh lebih bingung dibanding mecicilin spek notebook di toko komputer, karena punya duit pas-pasan. Dan jauh lebih njlimet dari namatin Final Fantasy IX.
Maklum, kalo bisa dikotakkan, gw ini termasuk tipe “loser” guy, not a “player” one. Gw bukan tipe cowok yang gampang ngedeketin cewek. Make first move itu, susah banget. Bahkan ngobrol pun suka salah tingkah (terutama klo cewe-nya cakep). Norak abis lah.
Pussy? Coward? Chicken? Yep, that’s me alright.
Sejauh ini memang nggak ada masalah. My goddamn life is just goddamn fine. No problemo, essay. I have a nice job. Gw dapat duit dengan mengerjakan sesuatu yang gw cintai, menulis.
Gw punya banyak teman. Kalo suntuk, gw tinggal DVD marathon, main game sepuasnya, dugem, minum, Etc. So far so good, for almost, euh, two years maybe.
Hingga, saat itu datang. Ketika gw ngerasa ada sesuatu yang hilang. Ada kepingan yang belum terpasang di rangkaian puzzle hidup gw. Ya. That’s right. Itu adalah mahluk bernama cewek!
"Being deeply loved by someone gives you strength, While loving someone deeply gives you courage." - Lao Tzu
kalau itu benar, berarti yang gw butuhkan itu cinta? Shit, I can believe im saying this. Ok yang mo muntah, muntah aja. Tapi kalo memang itu benar, sekarang gw sedang memulai sebuah hubungan, yang, I don’t know, apa gw harus berharap banyak atau cuma sekedar lewat saja.
Tapi yang jelas, gw sekarang lagi butuh banget strength itu. Karena itu gw bingung. hiks.
CV pacaran gw sebenernya nggak terlalu bagus. 23 tahun gw idup di dunia, cuma 4-5 kali menjalin cinta dengan wanita. Bahkan, yang bisa dihitung serius cuma dua. Sisanya numpang lewat. Sempat juga beberapa kali “terlibat emosi” dengan beberapa cewek. Tapi nggak sampai ke tahap komitmen. Pure lust, no love. Hihihi.
Lucu juga sebenernya. Dari dua yang serius itu, gw sebagai cowok justru jadi pihak yang paling menderita. Yang pertama, diselingkuhi. Yang kedua, beda agama. Sekarang, dua-duanya sudah sama-sama punya cowok. Dan, sudah serius banget sama cowok2 mereka. But hey, don’t get me wrong. I’m happy for them.
Nyari cewek itu, seratus kali lebih susah dari milih kos-kosan. Jauh lebih bingung dibanding mecicilin spek notebook di toko komputer, karena punya duit pas-pasan. Dan jauh lebih njlimet dari namatin Final Fantasy IX.
Maklum, kalo bisa dikotakkan, gw ini termasuk tipe “loser” guy, not a “player” one. Gw bukan tipe cowok yang gampang ngedeketin cewek. Make first move itu, susah banget. Bahkan ngobrol pun suka salah tingkah (terutama klo cewe-nya cakep). Norak abis lah.
Pussy? Coward? Chicken? Yep, that’s me alright.
Sejauh ini memang nggak ada masalah. My goddamn life is just goddamn fine. No problemo, essay. I have a nice job. Gw dapat duit dengan mengerjakan sesuatu yang gw cintai, menulis.
Gw punya banyak teman. Kalo suntuk, gw tinggal DVD marathon, main game sepuasnya, dugem, minum, Etc. So far so good, for almost, euh, two years maybe.
Hingga, saat itu datang. Ketika gw ngerasa ada sesuatu yang hilang. Ada kepingan yang belum terpasang di rangkaian puzzle hidup gw. Ya. That’s right. Itu adalah mahluk bernama cewek!
"Being deeply loved by someone gives you strength, While loving someone deeply gives you courage." - Lao Tzu
kalau itu benar, berarti yang gw butuhkan itu cinta? Shit, I can believe im saying this. Ok yang mo muntah, muntah aja. Tapi kalo memang itu benar, sekarang gw sedang memulai sebuah hubungan, yang, I don’t know, apa gw harus berharap banyak atau cuma sekedar lewat saja.
Tapi yang jelas, gw sekarang lagi butuh banget strength itu. Karena itu gw bingung. hiks.
Sunday, January 01, 2006
Happy New Year!!!!!!!!!!!!!!!!!!
selamat tahun baru semuanya!
akhirnya resolusi gw tahun ini tercapai semuanya. hell yeaah!
smoga tahun depan gw bisa jadi orang yang lebih baik lagi. btw luv u beib!!
akhirnya resolusi gw tahun ini tercapai semuanya. hell yeaah!
smoga tahun depan gw bisa jadi orang yang lebih baik lagi. btw luv u beib!!
Thursday, December 29, 2005
tahun baru
tahun baru kemana?
lagi-lagi pertanyaan itu. bukannya gw antipati terhadap tahun baru, tapi kok rasanya gak ada sekalipun hasrat untuk merayakan malam pergantian tahun itu dengan bersenang-senang.
sampai detik ini pun. gw gak ada rencana mo kemana.
mo dugem, ah, males. banyak bom. mo pacaran, ah gak punya pacar ini. hmm,rasanya tahun baruan paling berkesan terakhir kali ya tahun 2003. ketika gw menghabiskan malam dengan dinner bareng mantan gw.
tahun kemarin, bah, gak ada kesan2 sedikitpun. klo gak salah gw waktu itu pengin banget dugem. tapi raka, my partner in crime (was), memilih membeli miras, dan mabuk di kamar kostnya bareng beberapa anak ip.
yah, karena itu, tahun ini gw gak ada ekspektasi apa-apa. lagipula, saat ini gw mengalami sindrom suntuk berkepanjangan. kenapa ya hidup begitu sulit? *halah.
seperti kata Sartre, "Everything has been figured out, except how to live."
lagi-lagi pertanyaan itu. bukannya gw antipati terhadap tahun baru, tapi kok rasanya gak ada sekalipun hasrat untuk merayakan malam pergantian tahun itu dengan bersenang-senang.
sampai detik ini pun. gw gak ada rencana mo kemana.
mo dugem, ah, males. banyak bom. mo pacaran, ah gak punya pacar ini. hmm,rasanya tahun baruan paling berkesan terakhir kali ya tahun 2003. ketika gw menghabiskan malam dengan dinner bareng mantan gw.
tahun kemarin, bah, gak ada kesan2 sedikitpun. klo gak salah gw waktu itu pengin banget dugem. tapi raka, my partner in crime (was), memilih membeli miras, dan mabuk di kamar kostnya bareng beberapa anak ip.
yah, karena itu, tahun ini gw gak ada ekspektasi apa-apa. lagipula, saat ini gw mengalami sindrom suntuk berkepanjangan. kenapa ya hidup begitu sulit? *halah.
seperti kata Sartre, "Everything has been figured out, except how to live."
Tuesday, December 13, 2005
$
Bagus. Dari dulu-dulu gw berharap kurs dollar terhadap rupiah turun. Logikanya, harga-harga ikutan turun. tapi ternyata? USD turun, harga malah naik. WTF?
minggu lalu, gw dapet telpon dari orang dealer Honda. Katanya, harga Supra X 125 CW yg gw pesen naik dari 14.3 jt jadi 15 jt! kalau ditambah asuransi, ya tinggal kali 3 persen dari harga itu. mana barang masih inden lagi. it sucks!
oke-oke. memang harga motor gak ada hubungannya sama USD. tapi, hari ini gw lihat harga ibook di Bhinneka, toko online yang menurut gw harganya lumayan "bersaing". sekitar dua hari lalu, harga ibook M9846SA/A cuma $999. eh, sekarang naik menjadi $1,037. Dulu sempat 9.8 juta. sekarang balik lagi jadi 10.2 juta.
jadi, turunnya USD sama sekali nggak ada dampaknya. gw jadi sebel sama penjual yang seenaknya menaik turunkan harga. kurang ajar banget gak sih?
masalah ini sudah gw tanyakan lewat YM! ke pemilik situs www.buyitsave.com. jawaban yang gw dapat kurang memuaskan. katanya, "duh bos, ini permintaan dari distributor. kita sih cuma ngejalanin aja,". hmm. yeah right!
minggu lalu, gw dapet telpon dari orang dealer Honda. Katanya, harga Supra X 125 CW yg gw pesen naik dari 14.3 jt jadi 15 jt! kalau ditambah asuransi, ya tinggal kali 3 persen dari harga itu. mana barang masih inden lagi. it sucks!
oke-oke. memang harga motor gak ada hubungannya sama USD. tapi, hari ini gw lihat harga ibook di Bhinneka, toko online yang menurut gw harganya lumayan "bersaing". sekitar dua hari lalu, harga ibook M9846SA/A cuma $999. eh, sekarang naik menjadi $1,037. Dulu sempat 9.8 juta. sekarang balik lagi jadi 10.2 juta.
jadi, turunnya USD sama sekali nggak ada dampaknya. gw jadi sebel sama penjual yang seenaknya menaik turunkan harga. kurang ajar banget gak sih?
masalah ini sudah gw tanyakan lewat YM! ke pemilik situs www.buyitsave.com. jawaban yang gw dapat kurang memuaskan. katanya, "duh bos, ini permintaan dari distributor. kita sih cuma ngejalanin aja,". hmm. yeah right!
Thursday, December 08, 2005
Mainan Baru
gw dapet mainan baru. Motorola ROKR. Ini dummy untuk direview Freddy, penulis rubrik tekno di koran gw. Tapi sebelum direview, gw "curi" duluan. hahaha. Tapi, doi rela-rela aja. Katanya sih, butuh 2nd opinion.
Ternyata, ROKR adalah versi terbaru dari Motorola E398. Bisa dibilang, ini versi "i"-nya. Fitur dan menunya overall hampir sama. Yang membedakan adalah I-tunes sebagai music player, menggantikan Moto-Mix. (Ini hasil perbandingan tadi malam dengan E398 punya anak kos). To be honest, melihat i-tunes dalam handphone ternyata sangat cool. Membuat gw berpikir lagi untuk membeli Nano. hiks.
Bukan saja karena warna ROKR yang silver (senada dengan warna i-tunes, Mac-banget), tapi lewat i-tunes kita bisa iseng-iseng untuk mengatur playlist, melihat lagu berdasarkan nama artis, album, atau judul lagu. Saat sedang Playing pun, terpampang ketiganya.
Misalnya, ketika gw memain lagu Bare Witness, diambil dari lagu album Alone With the Alone Milik grup metal-hardcore Time In Malta. Baik judul, album, dan penyanyinya terlihat semua. Simple sih, tapi terlihat menyenangkan.
Sayangnya, memori eksternal yg gw ada cuma 256 MB (upgradable, tapi kelihatannya menggunakan memori khusus yang lebih mahal dari MMC milik Nokia 7610. Jadi, kapasitasnya menyimpan lagu nggak sampai 100 biji.
Faktor unggul lainnya adalah speaker phone yang jernih dan "nge-bass". Mungkin terbaik di kelas handphone model candy bar. Bila E398 barunya sekitar 1.6 juta, ROKR dijual sekitar...euh, brapa ya? gw jadi lupa.
Eniwei, setelah sehari memakai, gw menemukan beberapa kelemahan :
1. Tidak ada tulisan "ROKR" di casing, which i think it will be cool. Nama dibawah body tetap, Motorolla. Ini yg ngebuat gw berdebat dengan temen kos yang nggak percaya kalo nih handphone namanya ROKR.
2. Transfer lagu via i-tunes sangat-sangat lamaaa. ini gw bandingkan dengan iPod Shuffle gw. Transfer rate-nya nyari dua kali lebih lama dari iPod. Meski sepele, tapi cukup annoying. Sebab, membuat mood gonta-ganti lagu jadi hilang. Gw sendiri nggak tahu apakah ini disebabkan karena USB, atau memang kualitas memorinya.
Sementara baru ini aja sih. Nanti kalau sudah menemukan kelemahan dan kelebihan lainnya bakal gw posting lagi. Cuma, kata anak kosan gw, harga Motorola cepet banget turunnya. Jadi ya sebaiknya hati-hati saja sebelum memutuskan untuk membeli handphone ini.
On the other hand. Gw lagi nunggu motor yang gak dateng-dateng. Gw udah inden Supra X 125 CW, menggantikan Belalang Tempur,--GL Pro 1996 yang hampir 10 tahun menemani gw--. Katanya sih Astra Honda Motor , selaku produsen memang nggak menyediakan barang ready. Jadi, setelah ada pesanan, baru didatangkan dari..euh, China atau Thailand kalo gak salah. Jadi assemblingnya nggak dilakukan disini.
Wah, kaya banget gw beli motor yak? well, sebenarnya ini bukan duit gw, tapi dibeliin nyokap. Gw cuma nambahin dikit, plus biaya asuransi. hehehe. Daripada beli motor, gw lebih milih beli iBook G4 M9846SA/A idaman. Yippee, diangkatnya Boediono sebagai Menko Perekonomian menggantikan Ical sukses bikin dollar merosot jadi Rp. 9.985. Moga-moga bisa terus begini nih. Amin.
Tuesday, November 29, 2005
Single Shopper
No alcohols for today? WTF?
Awal bulan adalah waktu yang terindah. Tentu karena kita mendapatkan paycheck a.k.a jerih payah selama empat minggu berturut-turut. Kemarin sengaja gw dateng lebih pagi ke kantor dan menyelesaikan kerjaan secepat mungkin.
Ya setelah sebulan penuh dikejar-kejar deadline, tibalah saatnya untuk memanjakan diri. Caranya? Right on, belanja! Mengisi kulkas gw yang hampir 10 hari ini kosong. Jam 3 sore naskah sudah disetor. Dan sebelum meluncur ke Carrefour Permata Hijau, terlebih dulu gw mampir ke Pasar Festival, Kuningan.
Disitu ada toko yang menjual majalah impor “lungsuran” dari Kinokuniya dengan harga jauh lebih murah. Bisa separuh, bahkan seperempat harga aslinya. Ya tentu bukan majalah gress. Tapi cukup update kok. Misal sekarang bulan November, edisi Oktober biasanya sudah tersedia.
Ada berbagai kategori. Mulai dari home, desain, art, musik, game, hingga fashion. Dari Rolling Stone, The Source, Premiere, Blender, sampai People ada. Sayangnya gw nggak menemukan dua majalah yang gw cari, Popular Mechanics dan Mens Noh No. Akhirnya pilihan jatuh ke Time, GQ, Empire, Soap, dan Q. Total gw “cuma” merogoh $10.
Secara gw yang masih bujangan dan single (shit!), otomatis duit gaji hanya untuk kepentingan gw sendiri. Ya ini mungkin salah satu (atau satu-satunya?) keuntungan menjadi single. Well eniwei, semua daftar belanjaan sudah ditulis rapi di notes kecil. Ya, belakangan ini gw mencoba mensistemisasi waktu gw sebaik mungkin dengan cara mencatatnya di sebuah note. Jam 9 ngapain, jam 11 ngapain. Supaya lebih efektif saja.
Gw sengaja memilih barang-barang yang memang nggak ada di Indo atau Alfamart. Misalnya Nescafe sachet, La Fonte, jus, strawberry, sayur, dst. Secara gw pulang naik motor, jadinya nggak bisa bawa barang terlalu banyak.
Belanja sendirian itu punya sensasi menakjubkan. Well, its kinda hard to explain. Its like you can control u’r self, u know. Merasa jadi orang gitu. Hidup sendiri, masak sendiri, blanja sendiri, bayar sendiri. I’m 23, dan cukup bangga bisa merasakannya diumur segitu. Hahaha. Norak ga sih.
Ya tapi blanja sendiri tak selamanya juga menyenangkan. Tadi gw sempat teringat lagi waktu pacaran dulu. You know, kita belanja bareng malem-malem di supermarket 24 jam. Trus kerumahnya. And gw masakin dia sesuatu, terus dimakan sama-sama. Meski masakan gw rasanya ga karuan, tapi karena masaknya dengan penuh perasaan jadinya tetep aja kerasa enak. Hahaha. Sometimes, rasanya pengin kembali ke masa-masa itu. *sigh.
Oke, cukup mengasihani diri sendiri. Eniwei, rencana belanja selektif tinggalah rencana. Gw kalap, dan membeli barang-barang yang ga penting. Gila aja, setelah ditotal jumlahnya nyaris $25. Itu belum seberapa. Yang bikin pusing ketika harus ngebawa tuh belanjaan pulang. Bayangin, ada 6 plastik gede. Buset dah. Untungnya, dengan sedikit ketrampilan tuh plastik gw tekuk2 jadi dua bungkus.
ps : as for 40 years old virgin, bah, bad movie, bad script, bad sex joke. very not recommended.
Friday, November 25, 2005
Jeng Iskan
Wanna Play?
Bagaimana karakter kamu dibalik pakaian itu?
Sungguh 360 derajat beda. Saya adalah sosok yang sangat tidak tahan untuk ketawa.
Lalu, bagaimana bisa seperti saat ini, dingin dan kejam. Jangankan ketawa, senyum sedikit pun tidak?
Nggak tahu ya. Seolah itu menempel begitu saja. Ketika saya mengenakan topeng dan kostum, sosok Jeng Iskan langsung menjelma dalam diri saya.
Diluar topeng, profesi apa yang kamu kerjakan?
Secara detil saya tidak bisa memberi tahu. Yang jelas saya adalah seorang model, iklan, dan juga main dalam produksi sinetron.
Ada nggak kepuasan yang didapat selama berada di kostum ini?
Banyak. Ada kepuasan batin. Saya bisa melepaskan emosi dan unek-unek. Dalam kehidupan nyata, saya nggak bisa teriak-teriak atau memerintah orang sesukanya. Tidak ada yang bisa menganggu kekuasan Jeng Iskan saat bertugas.
Trus bagaimana cara menghadapi bintang tamu?
Saya selalu mempelajari kelebihan dan kekurangan mereka, dan mencari titik lemahnya. Misalnya apa dia latah atau mudah emosi.
Bagaimana saat tamu punya kemampuan memainkan situasi?
Saya harus lebih baik dari dia. Misalnya dia bilang ”kamu cantik sekali, seksi sesuai dengan selera saya”. Saya harus tetap mengendalikan emosi dan menguasai keadaan. Saya akan menjawab, ”saya tahu saya memang cantik dan saya juga seksi, tapi maaf saya tidak tertarik dengan anda. Anda bukan selera saya”
Sampai kapan anda akan terus berperan menjadi karakter ini ?
Selama saya mengenakan kostum ini, identitas saya adalah Jeng Iskan, dan tidak ada yang lain.
interview by Juni
Monday, November 14, 2005
King Kong
Kemarin lihat trailernya film terbaru Peter Jackson ini di TV7. It was great. Karena remake, ceritanya persis versi aslinya (dirilis tahun 1933), dengan sedikit twist (pertarungan King Kong dengan T-Rex yang paling gw tunggu).
King Kong disebut-sebut sebagai film berbiaya termahal, mencapai lebih dari $200 juta atau sekitar Rp 2 triliun. Mungkin “orang gila” yang nekad bikin film dengan biaya superbesar itu Cuma Jackson.
Dan sekali lagi, Jackson membuat durasinya superpanjang (mencapai tiga jam), seperti trilogy Lord of the Rings. Ini bakal menjadi film yang paling ditunggu setelah film Harry Potter And the Goblet of Fire.
King Kong mulai tayang diseluruh dunia pada pada 14 Desember nanti. Diperkuat dengan bintang-bintang besar : pentolan Tenacious D, Jack Black. Pemenang aktor terbaik Oscar Adrien Brody (The Pianis), dan Naomi Watts.
Konon si Gollum Andy Serkis juga berperan secara tidak langsung. Kali ini ia tidak mengisi suara. Melainkan gerakan-gerakan sang gorilla. Dalam istilah animasi, istilah ini disebut Mocap (Motion capture).
Sayangnya, versi game PS2-nya sangat lame. Gw nggak jadi beli setelah mencoba di toko PS langganan. Grafisnya lumayan, tapi gamenya 1st person yang gak gw suka. Lagipula, memainkan gamenya sama saja jadi spoiler kan? so, pilihan jatuh ke Soul Calibur 3 yang sangat keren dan Resident Evil 4.
Naomi Watts kelihatan sexy disini
Kongs v Rex, pertempuran yang paling ditunggu
How Apple Does It
How Apple Does It, begitulah judul utama majalah Time edisi Oktober. Kovernya menampilkan CEO Apple Computer Steve Jobs memegang iPod Video, dengan sebuah iMac bertuliskan What’s Next dibawahnya.
Cover story Time bulan lalu memang menyoroti Apple sebagai perusahaan paling inovatif, dengan strategi yang disebut “menyalahi” pasar. Sebuah artikel yang sangat bagus dan catchy. Membuat kita --terutama gw sebagai wannabe-fans Apple-- tersenyum simpul.
Kalau dicermati, Apple memang perusahaan yang “ganjil”. Bila perusahaan high-tech berfokus pada satu atau dua sektor saja, Apple nyaris membabat semuanya. Ia membuat hardwarenya sendiri (iBook dan iMac).
Kemudian ada sistem operasi (Mac OS X) dan software yang hanya bisa digunakan secara esklusif oleh sistem operasi itu (iTunes, iMovie). Belum cukup? Masih ada gadget yang terhubung secara tidak langsung dengan Mac (iPod), serta fasilitas online untuk mendownload lagu (iTunes Music Store). Luar biasa bukan?
Langkah ini kebalikan dengan yang dilakukan Bill Gates dengan Microsoft-nya. Gates lebih memfokuskan diri dengan sistem operasi, dan tidak mengkuatirkan masalah hardwarenya. Windows bebas digunakan siapapun yang mampu membeli lisensinya.
Yang bikin gw heran lagi, seorang Steve Jobs –salah satu inovator teknologi terhebat saat ini- bukanlah seorang engineer ataupun programmer. Bahkan, ia tak memiliki gelar kesarjanaan (dia drop out dari kampus setelah satu semester). Kunci suksesnya adalah memiliki kepekaan terhadap desain, berani, serta memperkerjakan orang-orang jenius. Well, selebihnya kalian baca sendiri ya. Heuheuhue.
Sunday, November 13, 2005
Julie Estelle
A greatest gift a man can have
Luar biasa cantik, sangat lovable, dengan senyum yang bikin luluh hati cowok. Extremely funny. Friendly, walau sedikit spoil, dengan jiwa adventure tinggi. A Johny Depp fans, Sushi Rolls and French food-die hard, prefers romantic-drama than horror, Alternatif-rock favourite, dengan logat Prancis-Inggris yang sexy. Meet Julie Estelle.
Kalau gini mirip banget sama Rachel Leigh Cook ya. Check out MY GALLERY buat ngeliat gambar2 Julie lainnya. :D
State of Mind
Gw merasa beruntung datang ke Jakarta, dan memiliki blog ini. Gw merasa menemukan dunia baru. Sebuah media yang mampu membuka isi kepala gw. Gw dapat menulis, bercerita dengan bebas.
Toh, gw buat blog ini bukan untuk orang lain, tapi murni buat gw sendiri. Sebagai arsip, untuk mengetahui tiap langkah dan perkembangan diri gw. Kalau pun ada yang baca, ya itu berarti mereka iseng dan kurang kerjaan. Hihihi. Kadang kalau ngelihat hit counter-nya, gw sampai heran, kok masih ada aja yang sih buka-buka blog ini. Jadi, emang iseng atau kurang kerjaan sih? Hehehe.
Gw baru menyadari, kalau di Jakarta ini ternyata begitu banyak orang-orang ”gila”, dalam arti kata positif, tentunya. Mereka-mereka yang tak hanya punya bakat, tapi juga ketekunan tinggi, kecerdasan, serta passion yang luar biasa besar terhadap apa yang mereka kerjakan.
Karena itu jangan heran ketika suatu saat kita membaca si A, misalnya, menghasilkan karya film layar lebar. Dan di waktu lain, ternyata si A juga dapat menulis novel yang ciamik. Disini, orang-orang dengan stereotype A itu tak hanya satu-dua. Tapi ratusan, bahkan ribuan. Luar biasa.
Ini membuat gw berpikir, betapa mudah dan cepatnya gw berpuas serta melimitasi keahlian gw dalam satu bidang saja. Padahal, begitu banyak hal yang ingin sekali gw kerjakan. Begitu banyak ilmu yang bisa diserap. Sumpah, kalau ngerasain ini, gw merasa begitu banyak waktu yang gw buang percuma.
Karena itu, jelang tahun 2006 ini gw sudah menyiapkan beberapa resolusi-yang semoga saja bisa gw capai-. Kenapa harus resolusi? Tipikal orang kan bermacam-macam. Ada yang go with the flow, ada juga yang terus menargetkan sesuatu untuk dicapai.
Sementara gw, adalah tipe pemalas. Kalau gw memilih yang pertama, gw nggak akan berkembang. Dengan adanya resolusi, berarti ada target yang harus dicapai. Berarti ada motivasi dan passion disana. Kedua hal itu membuat gw harus belajar lagi tentang berbagai hal yang benar-benar baru.
Dulu, gw berpikir untuk bisa memulai sesuatu itu sangat sulit. Gw selalu berkelit, orang-orang yang profesional dalam bidangnya, itu karena mereka sudah berada disana selama bertahun-tahun.
Ya, itu tak sepenuhnya salah. Tapi yang terpenting adalah, ada kemauan untuk belajar. Yang gw pelajari, gift atau bakat hanya mempermudah. Selebihnya tergantung dari individu masing-masing, serta permudahan jalan dari Tuhan.
Buktinya, ada seseorang yang benar-benar awam dalam hal tulis-menulis. Tapi karena kegigihan, ketekunan, passion, serta keberuntungan, tentu, dalam waktu setahun sudah menghasilkan karya novel.
Mike Wiluwan, director studio animasi Infinate Frameworks di Singapore, pernah berkata, ”Cuma passion yang dapat membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan berat, dibawah tekanan seberat apapun, dan dengan deadline yang begitu dekat,”.
Nah, sementara gw, sudah lebih dari tiga tahun berkecimpung dalam dunia tulis-menulis. Dan yang bisa gw hasilkan Cuma post-post nggak penting, diblog nggak penting ini. Gw bertekad, akan terus mengeksplorasi dan memacu diri gw semaksimal mungkin, going to the next level--semoga saja ini tidak angin-anginan--. Prinsipnya simple saja, sebenarnya. No pain no gain, man!
Oke. Balik ke resolusi tadi. Terus, apa saja resolusi gw? Banyak. Tapi rasanya nggak perlu gw beber disini. *halah siapa juga yang pengin tahu? Hehehe.
Tapi gw cukup gembira, karena jelang pergantian tahun ini, 2 dari 3 resolusi gw sudah tercapai. Yang pertama pindah dan menetap di Jakarta. Dan yang kedua mendapat pekerjaan yang “lebih” dari kerjaan lama gw. Lalu, apa yang belum tercapai? Rasanya semuanya sudah tahu, yak benar sodara-sodara, punya cewek. Huehue. Ya semoga saja, tahun depan resolusi ini bisa tercapai. Euh, but lets save the best for last. Okay.
Yang terpenting, semoga saja tahun depan gw bisa lebih positif. Lebih kurus (jeezz, my tummy is getting big and bigger), lebih rajin sholat, dan menghindari perbuatan tidak berpahala. Euh, minum, cimeng, dan bokep mungkin tidak dihilangkan, hanya dikurangi. Hihihi.
Oh ya, udah nggak sabar untuk melihat Jiffest bulan Desember depan. Gw berjanji akan menyelesaikan kerjaan secepat mungkin, supaya bisa puas nontonnya.
Toh, gw buat blog ini bukan untuk orang lain, tapi murni buat gw sendiri. Sebagai arsip, untuk mengetahui tiap langkah dan perkembangan diri gw. Kalau pun ada yang baca, ya itu berarti mereka iseng dan kurang kerjaan. Hihihi. Kadang kalau ngelihat hit counter-nya, gw sampai heran, kok masih ada aja yang sih buka-buka blog ini. Jadi, emang iseng atau kurang kerjaan sih? Hehehe.
Gw baru menyadari, kalau di Jakarta ini ternyata begitu banyak orang-orang ”gila”, dalam arti kata positif, tentunya. Mereka-mereka yang tak hanya punya bakat, tapi juga ketekunan tinggi, kecerdasan, serta passion yang luar biasa besar terhadap apa yang mereka kerjakan.
Karena itu jangan heran ketika suatu saat kita membaca si A, misalnya, menghasilkan karya film layar lebar. Dan di waktu lain, ternyata si A juga dapat menulis novel yang ciamik. Disini, orang-orang dengan stereotype A itu tak hanya satu-dua. Tapi ratusan, bahkan ribuan. Luar biasa.
Ini membuat gw berpikir, betapa mudah dan cepatnya gw berpuas serta melimitasi keahlian gw dalam satu bidang saja. Padahal, begitu banyak hal yang ingin sekali gw kerjakan. Begitu banyak ilmu yang bisa diserap. Sumpah, kalau ngerasain ini, gw merasa begitu banyak waktu yang gw buang percuma.
Karena itu, jelang tahun 2006 ini gw sudah menyiapkan beberapa resolusi-yang semoga saja bisa gw capai-. Kenapa harus resolusi? Tipikal orang kan bermacam-macam. Ada yang go with the flow, ada juga yang terus menargetkan sesuatu untuk dicapai.
Sementara gw, adalah tipe pemalas. Kalau gw memilih yang pertama, gw nggak akan berkembang. Dengan adanya resolusi, berarti ada target yang harus dicapai. Berarti ada motivasi dan passion disana. Kedua hal itu membuat gw harus belajar lagi tentang berbagai hal yang benar-benar baru.
Dulu, gw berpikir untuk bisa memulai sesuatu itu sangat sulit. Gw selalu berkelit, orang-orang yang profesional dalam bidangnya, itu karena mereka sudah berada disana selama bertahun-tahun.
Ya, itu tak sepenuhnya salah. Tapi yang terpenting adalah, ada kemauan untuk belajar. Yang gw pelajari, gift atau bakat hanya mempermudah. Selebihnya tergantung dari individu masing-masing, serta permudahan jalan dari Tuhan.
Buktinya, ada seseorang yang benar-benar awam dalam hal tulis-menulis. Tapi karena kegigihan, ketekunan, passion, serta keberuntungan, tentu, dalam waktu setahun sudah menghasilkan karya novel.
Mike Wiluwan, director studio animasi Infinate Frameworks di Singapore, pernah berkata, ”Cuma passion yang dapat membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan berat, dibawah tekanan seberat apapun, dan dengan deadline yang begitu dekat,”.
Nah, sementara gw, sudah lebih dari tiga tahun berkecimpung dalam dunia tulis-menulis. Dan yang bisa gw hasilkan Cuma post-post nggak penting, diblog nggak penting ini. Gw bertekad, akan terus mengeksplorasi dan memacu diri gw semaksimal mungkin, going to the next level--semoga saja ini tidak angin-anginan--. Prinsipnya simple saja, sebenarnya. No pain no gain, man!
Oke. Balik ke resolusi tadi. Terus, apa saja resolusi gw? Banyak. Tapi rasanya nggak perlu gw beber disini. *halah siapa juga yang pengin tahu? Hehehe.
Tapi gw cukup gembira, karena jelang pergantian tahun ini, 2 dari 3 resolusi gw sudah tercapai. Yang pertama pindah dan menetap di Jakarta. Dan yang kedua mendapat pekerjaan yang “lebih” dari kerjaan lama gw. Lalu, apa yang belum tercapai? Rasanya semuanya sudah tahu, yak benar sodara-sodara, punya cewek. Huehue. Ya semoga saja, tahun depan resolusi ini bisa tercapai. Euh, but lets save the best for last. Okay.
Yang terpenting, semoga saja tahun depan gw bisa lebih positif. Lebih kurus (jeezz, my tummy is getting big and bigger), lebih rajin sholat, dan menghindari perbuatan tidak berpahala. Euh, minum, cimeng, dan bokep mungkin tidak dihilangkan, hanya dikurangi. Hihihi.
Oh ya, udah nggak sabar untuk melihat Jiffest bulan Desember depan. Gw berjanji akan menyelesaikan kerjaan secepat mungkin, supaya bisa puas nontonnya.
I Taw I Taw A Putitat
Enihoo, ada penghuni baru di kos gw. Bukan, bukan cewek cakep. Tapi kucing. Kucing? Yep, gw sendiri nggak tau gimana tuh kucing nyasar ke kos. Yang jelas, dia menemukan tempat tidur supernyaman dan hangat. Yakni di sebuah helem standar yang nggak dipakai. Huhuhu.
Awalnya, gw beri nama kucing itu David (ini sempat diprotes Estu, karena merasa namanya kalah keren). Setelah beberapa hari gw baru ngeh, Heiii…how do I know it’s a she or he? So I ask my friend, Susi, whom a cat-a-holic. She came out with a simple answer. “Just look at the balls. If it has one, it’s he. And if not, so it’s a she”.
Iya-ya. Bener juga. Jadi tadi pagi gw pun melihat titit si kucing. Eit, jangan anggap gw asusila ya. Ini untuk kepentingan bersama, *halah. Hasilnya? It has no balls! Kesimpulannya, kucing itu cewek! Awalnya gw ingin menamainya Julie, cieh, mentang-mentang barusan wawancara adiknya Cathy Sharon. Tapi, si Estu memilih nama Davina. Yah, Davina is good.
So, Davina ini lucu banget. Sama seperti kucing lainnya, dia punya dua hasrat utama : tidur dan makan. Dia bisa langsung bangun dari tidur, kalo mencium ada orang masak ato bawa makanan (hmm..ini gw banget). Dan kalau dia laper, dia berusaha menarik perhatian gw dengan menggosok-gosokan kepala dan punggungnya ke kaki gw, dan mengeong-ngeong. Sumpah, ini lucu banget.
Kalo lagi nggak ada kerjaan, doi lebih suka masuk ke helem buat tidur. Doi juga suka banget kalo kepalanya di elus-elus. She will make sound like, “rrrrr….rrrrrrr”. hihi. Dan, dia ini paling suka buat kejutan.
Kayak tadi pagi, gw cari-cari di tempat tidurnya nggak ada. Pas gw masak mie, eh, tiba-tiba kaki gw geli2. Gw langsung freak out. Karena gw pikir ada ulet bulu raksasa di kaki gw. Ternyata, si puss. Huehueue. So, akhirnya kita makan mie bersama. Nyam-nyam.
Ini gayanya dia habis makan mie :
Awalnya, gw beri nama kucing itu David (ini sempat diprotes Estu, karena merasa namanya kalah keren). Setelah beberapa hari gw baru ngeh, Heiii…how do I know it’s a she or he? So I ask my friend, Susi, whom a cat-a-holic. She came out with a simple answer. “Just look at the balls. If it has one, it’s he. And if not, so it’s a she”.
Iya-ya. Bener juga. Jadi tadi pagi gw pun melihat titit si kucing. Eit, jangan anggap gw asusila ya. Ini untuk kepentingan bersama, *halah. Hasilnya? It has no balls! Kesimpulannya, kucing itu cewek! Awalnya gw ingin menamainya Julie, cieh, mentang-mentang barusan wawancara adiknya Cathy Sharon. Tapi, si Estu memilih nama Davina. Yah, Davina is good.
So, Davina ini lucu banget. Sama seperti kucing lainnya, dia punya dua hasrat utama : tidur dan makan. Dia bisa langsung bangun dari tidur, kalo mencium ada orang masak ato bawa makanan (hmm..ini gw banget). Dan kalau dia laper, dia berusaha menarik perhatian gw dengan menggosok-gosokan kepala dan punggungnya ke kaki gw, dan mengeong-ngeong. Sumpah, ini lucu banget.
Kalo lagi nggak ada kerjaan, doi lebih suka masuk ke helem buat tidur. Doi juga suka banget kalo kepalanya di elus-elus. She will make sound like, “rrrrr….rrrrrrr”. hihi. Dan, dia ini paling suka buat kejutan.
Kayak tadi pagi, gw cari-cari di tempat tidurnya nggak ada. Pas gw masak mie, eh, tiba-tiba kaki gw geli2. Gw langsung freak out. Karena gw pikir ada ulet bulu raksasa di kaki gw. Ternyata, si puss. Huehueue. So, akhirnya kita makan mie bersama. Nyam-nyam.
Ini gayanya dia habis makan mie :
Oleh-Oleh Lebaran
Setelah mudik selama hampir seminggu (ya, seperti koran umum lainnya, jatah libur lebaran Cuma dua hari. Tapi gw “membolos” dua hari, he-he-he) akhirnya gw kembali ke Jakarta.
Kembali ke rutinitas yang sama sebenarnya tak ada salahnya. Apalagi, jalanan Jakarta paska lebaran nggak terlalu macet. Lancar, seperti Surabaya. Hanya saja, rasanya libur selama hampir seminggu itu masih terasa kurang.
Waktu yang supersingkat di Surabaya itu rasanya begitu berharga tiap detiknya. Gw paling suka nyetir sendirian, muter-muter gak jelas, sambil dengerin CD kenceng-kenceng.
Dari muter-muter itu, gw baru sadar, sepeninggal gw (halah) begitu banyak pembangunan ya. Banyak perumahan-perumahan baru, dan malls! Salah satunya Royal Park di dekat rumah gw di Ketintang. Mall ini ada bioskop 21-nya lho. Hohoho. Asyik banget. Kalau mo nonton, tinggal koprol juga nyampek. Huh. Doing so, makes a little part of me didn’t want to go back to Jakarta. Begitu banyak memori indah, yang sulit ditinggalkan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, dari Surabaya, gw sekeluarga berkumpul di Malang. Dulunya di Batu, ke tempat ortu nyokap. Berhubung Yangkung sudah meninggal, maka pusat kegiatan dialihkan ke Malang.
Bagi gw, lebaran selalu menyenangkan. Tentu saja, gw bisa berkumpul bareng keluarga, keponakan, dan sepupu. Adik-adik sepupu gw yang paling dekat, ada tiga. Erik dan Cha-cha, anak om Ajik, adik nyokap. Sementara Aa dan Adit, anak Tante Mimin, adik nyokap juga yg lebih muda. Nyokap gw yang paling tua di keluarga.
Gw suka senyum-senyum sendiri ngelihat adik-adik gw. Nggak kerasa, sekarang sudah gede-gede. Bahkan, tingginya sudah melampaui kakaknya yang ganteng ini. Hehehe. Ohya, mereka ini punya karakternya sendiri-sendiri yang beda satu sama lain.
Erik, tipikal cowok tajir, suka bergaul, dan dugem. Ya, bisa disebut AGS (Anak Gaul Surabaya) lah. Hehehe. Ini didukung juga sama penampilannya. Selain pinter dandan, ia juga ganteng-tinggi-putih. Pemain basket pula. Kerjaannya gonta-ganti cewek melulu. Dan hampir selalu cakep. Dari model, sampai Ning Surabaya. Shit. Bisa aja nih anak.
Adit, adalah music freaks. Hampir tiap menit doi harus mendengarkan musik. Termasuk senang mengoleksi CD-CD orisinil band Skoinkcore (ska-oi-punk-melodic-hardcore). Koleksinya lumayan juga. Dari Bad Religion, No Use For A Name, Thrice, Keepsake, band-band Jepang macam Do As Infinity dan Asian Kung-Fu Generation lengkap.
Pengetahuan musiknya cukup akurat, dan selalu membuat gw bengong, saat ia menyebut dengan hapal nama-nama personel, lagu, serta lirik band yang nyaris tak pernah gw dengar sebelumnya.
Adiknya, Aa satu angkatan dengan Erik. Kalau Erik kuliah di Ekonomi Unair, Aa lebih memilih jurusan seni untuk kuliahnya. Jurusan, yang mungkin paling tidak diinginkan oleh orang tua kebanyakan. Mereka biasanya prefer anaknya berkuliah di jurusan “normal” seperti Hukum, Ekonomi, Psikologi, Teknik, dst.
Itu yang membuat gw kagum dengan Aa, juga orang tuanya yang begitu demokratis, membebaskan sang anak berkembang sesuai dengan keinginannya. Oh ya, si BMX-er ini kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta mengambil jurusan Fotografi.
Hmm, apa secara tidak langsung gw jadi role model buat dia ya? Wekeke. Eh, tapi bisa jadi lho. Konon keluarga gw sebagai yang tertua ini memberikan teladan yang baik *halah. Kakak gw, adalah cewek yang hidupnya lurus-lurus saja. Dari SD sampai SMA, hampir selalu ranking 1. Yah, paling nggak masuk tiga besar lah.
Doi sangat ambisius dan tekun. Terutama soal belajar. Terus terang, gw kagum banget dengan semangatnya. Kalau hasilnya memuaskan, semata karena kerja kerasnya. Doi lulus cumlaude di Teknik Industri ITS, dan sekarang kerja di bagian Asembling di AHM (Astra-Honda Motor), Jakarta. Doi tinggal bareng suaminya, yang kerja di Toyota-Astra Motor.
Gw, punya sifat kebalikan dengan kakak gw. Pemalas. Waktu SMA, paling sering berantem sama bonyok. Dari bolos, ketahuan nyimeng, dugem tiap minggu, sampai minggat dari rumah. Ya, standar kenakalan cowok lah.
Tapi, untungnya gw masih bisa memperingan biaya sekolah dengan selalu masuk negeri. Dari SD, sampai kuliah. Karena itu, bonyok lega banget ketika gw wisuda. Mereka merasa sebagian tanggung jawabnya kepada anak telah selesai. Dan sekarang, mereka sudah menganggap gw sebagai sosok manusia yang “seharusnya” bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Oke, balik ke lebaran. Tahun ini ada tambahan “keluarga baru”. Dia adalah Hery, suami kakak gw yang sekarang hamil dua bulan. Karena udah kawin, otomatis mereka berdua harus membagi waktu mudik. Jelas, supaya keluarga dari dua belah pihak kebagian. Hari pertama lebaran, dihabiskan bareng keluarga gw. Di hari keduanya mereka langsung meluncur ke Blitar. Kebetulan keluarga besar Hery tahun ini menggelar pertemuan.
Hal ini ngebuat gw berpikir, kalo nantinya gw kawin sama cewe Jakarta ato Bandung (ngarep!), gimana mudiknya ya. Pasti ribet banget kalo harus pulang-pergi Surabaya-Jakarta/Bandung. So, in that case kampung halaman calon istri gw nanti harusnya nggak jauh-jauh dari Surabaya kali ya?
Btw, omong-omong tentang rutinitas. Baru dua hari ngantor, orang sekantor dapet “kejutan”. Bukan, gaji kita nggak naik kok. Melainkan ada cewek yang kesurupan! Buset!. Seumur-umur baru kali ini gw ngelihat orang kesurupan. Dan sumpah sodara-sodara, serem banget!
Kesurupannya nggak terjadi di ruang redaksi. Tapi di ruang Markom yang konon katanya emang angker. Dan si jin-entah jin botol ato jin ifrit- jelas nggak pilih-pilih waktu. Karena itu terjadi di siang bolong. Jam dua siang!
Yang kesurupan cewek, rambut panjang ikal, item manis. Waktu gw dateng udah rame banget. Tuh cewek lagi berbaring, sambil dipegangi temen-temennya. Matanya mengatup, cuma doi teriak-teriak nggak jelas sambil ketawa-ketawa kayak orang gila. Teriakannya, yang bikin serem. Kenceng dan melengking. Percis suara kuntilanak ato setan-setan perempuan lainnya yang biasa dilihat di tivi. Shit.
Temen-temen yang lain sudah berusaha baca ayat-ayat Al Quran. Eh, si jin nggak kunjung pergi. Tapi, percaya ato tidak, keknya dia ngerasa lho. Waktu dibaca keras-keras (gw nggak tau itu ayat apa), dia teriak kayak kesakitan ato ketakutan. Eh, abis itu ketawa lagi. Mungkin karena yang ngebacain kurang yakin kali ya.
Terus terang, waktu itu emang nggak ada yang tahu harus ngapain, selain menunggu kyai yang tak kunjung datang. Gw sendiri, Cuma bengong. Mau ngebantu, tapi takut salah. Mau ikutan megangi, ntar malah dikira usaha lagi. Kan repot. Hehehe.
Kata Pak Maman, sopir kantor, tuh cewek pikirannya lagi kosong. Dan doi tergolong manusia yang gampang banget dimasukin jin. ”Soalnya tulang iga-nya ada yang retak,” katanya. Pikiran kosong masih masuk akal, tp gw bingung, apa hubungannya tulang iga retak sama kesurupan. Hmm… yang jelas, no more sleep in the office!
Pak Maman juga bilang, when you get goosebumps, itu berarti ada mahluk halus yang dateng. Shit. Gw pernah, Sabtu-Sabtu tidur kantor sendirian. Sekitar jam 2-3 pagi, I get goosebumps. Entah apa karena gwnya yang penakut, tapi gw merinding stengah mampus. Jadi itu berarti….shit, so scary.
Kembali ke rutinitas yang sama sebenarnya tak ada salahnya. Apalagi, jalanan Jakarta paska lebaran nggak terlalu macet. Lancar, seperti Surabaya. Hanya saja, rasanya libur selama hampir seminggu itu masih terasa kurang.
Waktu yang supersingkat di Surabaya itu rasanya begitu berharga tiap detiknya. Gw paling suka nyetir sendirian, muter-muter gak jelas, sambil dengerin CD kenceng-kenceng.
Dari muter-muter itu, gw baru sadar, sepeninggal gw (halah) begitu banyak pembangunan ya. Banyak perumahan-perumahan baru, dan malls! Salah satunya Royal Park di dekat rumah gw di Ketintang. Mall ini ada bioskop 21-nya lho. Hohoho. Asyik banget. Kalau mo nonton, tinggal koprol juga nyampek. Huh. Doing so, makes a little part of me didn’t want to go back to Jakarta. Begitu banyak memori indah, yang sulit ditinggalkan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, dari Surabaya, gw sekeluarga berkumpul di Malang. Dulunya di Batu, ke tempat ortu nyokap. Berhubung Yangkung sudah meninggal, maka pusat kegiatan dialihkan ke Malang.
Bagi gw, lebaran selalu menyenangkan. Tentu saja, gw bisa berkumpul bareng keluarga, keponakan, dan sepupu. Adik-adik sepupu gw yang paling dekat, ada tiga. Erik dan Cha-cha, anak om Ajik, adik nyokap. Sementara Aa dan Adit, anak Tante Mimin, adik nyokap juga yg lebih muda. Nyokap gw yang paling tua di keluarga.
Gw suka senyum-senyum sendiri ngelihat adik-adik gw. Nggak kerasa, sekarang sudah gede-gede. Bahkan, tingginya sudah melampaui kakaknya yang ganteng ini. Hehehe. Ohya, mereka ini punya karakternya sendiri-sendiri yang beda satu sama lain.
Erik, tipikal cowok tajir, suka bergaul, dan dugem. Ya, bisa disebut AGS (Anak Gaul Surabaya) lah. Hehehe. Ini didukung juga sama penampilannya. Selain pinter dandan, ia juga ganteng-tinggi-putih. Pemain basket pula. Kerjaannya gonta-ganti cewek melulu. Dan hampir selalu cakep. Dari model, sampai Ning Surabaya. Shit. Bisa aja nih anak.
Adit, adalah music freaks. Hampir tiap menit doi harus mendengarkan musik. Termasuk senang mengoleksi CD-CD orisinil band Skoinkcore (ska-oi-punk-melodic-hardcore). Koleksinya lumayan juga. Dari Bad Religion, No Use For A Name, Thrice, Keepsake, band-band Jepang macam Do As Infinity dan Asian Kung-Fu Generation lengkap.
Pengetahuan musiknya cukup akurat, dan selalu membuat gw bengong, saat ia menyebut dengan hapal nama-nama personel, lagu, serta lirik band yang nyaris tak pernah gw dengar sebelumnya.
Adiknya, Aa satu angkatan dengan Erik. Kalau Erik kuliah di Ekonomi Unair, Aa lebih memilih jurusan seni untuk kuliahnya. Jurusan, yang mungkin paling tidak diinginkan oleh orang tua kebanyakan. Mereka biasanya prefer anaknya berkuliah di jurusan “normal” seperti Hukum, Ekonomi, Psikologi, Teknik, dst.
Itu yang membuat gw kagum dengan Aa, juga orang tuanya yang begitu demokratis, membebaskan sang anak berkembang sesuai dengan keinginannya. Oh ya, si BMX-er ini kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta mengambil jurusan Fotografi.
Hmm, apa secara tidak langsung gw jadi role model buat dia ya? Wekeke. Eh, tapi bisa jadi lho. Konon keluarga gw sebagai yang tertua ini memberikan teladan yang baik *halah. Kakak gw, adalah cewek yang hidupnya lurus-lurus saja. Dari SD sampai SMA, hampir selalu ranking 1. Yah, paling nggak masuk tiga besar lah.
Doi sangat ambisius dan tekun. Terutama soal belajar. Terus terang, gw kagum banget dengan semangatnya. Kalau hasilnya memuaskan, semata karena kerja kerasnya. Doi lulus cumlaude di Teknik Industri ITS, dan sekarang kerja di bagian Asembling di AHM (Astra-Honda Motor), Jakarta. Doi tinggal bareng suaminya, yang kerja di Toyota-Astra Motor.
Gw, punya sifat kebalikan dengan kakak gw. Pemalas. Waktu SMA, paling sering berantem sama bonyok. Dari bolos, ketahuan nyimeng, dugem tiap minggu, sampai minggat dari rumah. Ya, standar kenakalan cowok lah.
Tapi, untungnya gw masih bisa memperingan biaya sekolah dengan selalu masuk negeri. Dari SD, sampai kuliah. Karena itu, bonyok lega banget ketika gw wisuda. Mereka merasa sebagian tanggung jawabnya kepada anak telah selesai. Dan sekarang, mereka sudah menganggap gw sebagai sosok manusia yang “seharusnya” bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Oke, balik ke lebaran. Tahun ini ada tambahan “keluarga baru”. Dia adalah Hery, suami kakak gw yang sekarang hamil dua bulan. Karena udah kawin, otomatis mereka berdua harus membagi waktu mudik. Jelas, supaya keluarga dari dua belah pihak kebagian. Hari pertama lebaran, dihabiskan bareng keluarga gw. Di hari keduanya mereka langsung meluncur ke Blitar. Kebetulan keluarga besar Hery tahun ini menggelar pertemuan.
Hal ini ngebuat gw berpikir, kalo nantinya gw kawin sama cewe Jakarta ato Bandung (ngarep!), gimana mudiknya ya. Pasti ribet banget kalo harus pulang-pergi Surabaya-Jakarta/Bandung. So, in that case kampung halaman calon istri gw nanti harusnya nggak jauh-jauh dari Surabaya kali ya?
Btw, omong-omong tentang rutinitas. Baru dua hari ngantor, orang sekantor dapet “kejutan”. Bukan, gaji kita nggak naik kok. Melainkan ada cewek yang kesurupan! Buset!. Seumur-umur baru kali ini gw ngelihat orang kesurupan. Dan sumpah sodara-sodara, serem banget!
Kesurupannya nggak terjadi di ruang redaksi. Tapi di ruang Markom yang konon katanya emang angker. Dan si jin-entah jin botol ato jin ifrit- jelas nggak pilih-pilih waktu. Karena itu terjadi di siang bolong. Jam dua siang!
Yang kesurupan cewek, rambut panjang ikal, item manis. Waktu gw dateng udah rame banget. Tuh cewek lagi berbaring, sambil dipegangi temen-temennya. Matanya mengatup, cuma doi teriak-teriak nggak jelas sambil ketawa-ketawa kayak orang gila. Teriakannya, yang bikin serem. Kenceng dan melengking. Percis suara kuntilanak ato setan-setan perempuan lainnya yang biasa dilihat di tivi. Shit.
Temen-temen yang lain sudah berusaha baca ayat-ayat Al Quran. Eh, si jin nggak kunjung pergi. Tapi, percaya ato tidak, keknya dia ngerasa lho. Waktu dibaca keras-keras (gw nggak tau itu ayat apa), dia teriak kayak kesakitan ato ketakutan. Eh, abis itu ketawa lagi. Mungkin karena yang ngebacain kurang yakin kali ya.
Terus terang, waktu itu emang nggak ada yang tahu harus ngapain, selain menunggu kyai yang tak kunjung datang. Gw sendiri, Cuma bengong. Mau ngebantu, tapi takut salah. Mau ikutan megangi, ntar malah dikira usaha lagi. Kan repot. Hehehe.
Kata Pak Maman, sopir kantor, tuh cewek pikirannya lagi kosong. Dan doi tergolong manusia yang gampang banget dimasukin jin. ”Soalnya tulang iga-nya ada yang retak,” katanya. Pikiran kosong masih masuk akal, tp gw bingung, apa hubungannya tulang iga retak sama kesurupan. Hmm… yang jelas, no more sleep in the office!
Pak Maman juga bilang, when you get goosebumps, itu berarti ada mahluk halus yang dateng. Shit. Gw pernah, Sabtu-Sabtu tidur kantor sendirian. Sekitar jam 2-3 pagi, I get goosebumps. Entah apa karena gwnya yang penakut, tapi gw merinding stengah mampus. Jadi itu berarti….shit, so scary.
Subscribe to:
Posts (Atom)